3.18.2006

"Risma" bagian 3

Risma kagum dengan bacaan Qur'an gadis itu. Waaaahhh...kereeen.. batinku.
"Assalaamualaikum."
Risma tersentak. Ia baru sadar kalau ada seorang gadis didepannya.
"eh,wa'alaikumsalam," aku mendongkak. Ternyata itu adalah orang yang sedang membaca Al-qur'an tadi. Melihat penampilannya Risma menjadi sedikit tidak enak. busana gadis itu serba panjang dan tertutup. sedangkan ia? serba pendek alias indis. tapi akhirnya Risma cuek saja.
"bolehkan saya duduk di sebelahmu?" gadis itu bersuara.
"ngga ada yang ngelarang," aku memperbolehkan ragu. Mau ngapain nih?
"Jazakillah," gadis itu tersenyum. Hah? tadi dia ngomong apa? jazazazalah...?
"kamu terluka?" arah pandangannya tertuju pada keningku. Wah, perhatian juga nih anak.
"luka kecil," jawabku pendek.
"bolehkah aku tahu apa sebab luka itu?" tanya dia lagi.
"bukan urusanmu," aku jawab asal. Kukira dia akan marah, tapi dia tersenyum. Direspon seperti itu, aku bingung mau apa. akhirnya aku tersenyum juga. hambar. cepat-cepat aku alihkan pandanganku ke depan. entah kenapa aku takut dengan orang ini.
"bolehkah aku mengetahui namamu?" gadis itu bersuara lagi. mendengar pertanyaannya, aku heran. kenapa ia tidak mengetahui aku? apa usahaku kurang? lagipula, aku jarang melihat anak ini di sekitar sekolah. bahkan tidak pernah. tapi rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat... tapi entah dimana...
"bolehkah aku mengetahui namamu?" gadis itu mengulang pertanyaan yang sama. lamunanku buyar. baru sadar tidak menanggapi dia.
"eh. Risma Iddhara Firdaus."
"Gradiana Seli." Ia mengulurkan tangannya. Kuulurkan juga. Kita bersalaman.
"Namamu indah," gadis yang mengaku dirinya Seli bersuara. Mendengar itu, aku tersenyum tipis. Banyak orang yang bilang begitu.

"terimakasih."
Tidak ada pembicaraan lagi. Aku mulai resah. Aku ingin membuat topik pembicaraan. Namun bingung. Sekilas kupandangi sosok Seli itu. Ia memakai jaket berwarna pink.
"jaketmu bagus. aku suka motifnya. kau beli dimana?" aku tertarik dengan jaket itu.
"oh? kau suka? aku juga suka. aku membuat sendiri." Hah?? buat sendiri??
"kau mahir menjahit ya? tapi modelnya seperti yang ada di toko-toko. aku jadi ingin..."
"Kalau kau menginginkan ini, ambillah," Seli berkata sambil tersenyum.
"Lho??? aku cuman bercanda!!" aku kaget mendengar ucapan Seli. Dia tajir kali yah?
"lho? tapi kamu mau kan?"
"iya sih..." tak bisa kupungkiri kalau aku memang jatuh cinta dengan jaket itu.
"kalau begitu ambil dan pakailah."
"nggg... masa ngga ada imbalan...?" aku merasa tidak enak kalau menerima barang begitu saja.
"ummm... kalau begitu kau harus mengabulkan 3 macam permintaanku."
"hah? banyak amet?"
"katanya minta imbalan...?"
"ok deh. Apa permintaannya?"
"yang pertama... aku ingin kau langsung memakai jaket ini." hm, permintaan yang aneh.
"gampang. terus?"
"yang kedua... aku ingin kau esok pergi denganku ke Gramedia Merdeka."
"ngapain...?"
"main," Seli jawab singkat. main? main di toko buku? ngga salah?
"ok deh. yang ketiga?" besok sekalian ke BIP aja deh.
"aku akan minta nanti."
"lho kok?"
"sudahlah... kalau begitu, ambillah jaketnya," Seli memberi jaketnya. Aku menerimanya dengan sangat bahagia.
teng...teng...teng...!!!!!!!! bel masuk.
"sepertinya sudah mulai jam pelajaran. aku ke kelas yah?" tanyaku.
"silahkan. aku disini."
"ok, bye!"
"eit! langsung pakai jaket!"
"oh iya! thanks yah!" aku lari sambil memakai jaket pink itu.

Seli tersenyum senang. Baju teman barunya yang pendek itu kini telah tertutupi oleh jaket panjang. Salam kenal Risma!