4.02.2006

"Risma" bagian 5

Pandanganku membuyar.. Kepalaku menunduk dan tersentak. Aku sadar lagi.. Hhhhhuuuaaaahh.. sudah kesekiannya aku menguap. Pandanganku membuyar lagi… kemudian kepalaku tertunduk dan tersentak lagi. Ihhh! Aku sewot sendiri. Bete! Bete! Bete! Ngga bisa ngajar yah mbak?! Kumanyunkan bibirku. Orang didepanku alias ustadzah sedang melakukan 'kulad'-nya (kuliah dua abad). Bagaimana tidak? Daritadi dia ngomoooongg terus. Ngga ada berhenti-berhentinya. Ngga pake sistem KBK. Walaupun aku ngga begitu suka dengan Kurikulum 2004 itu. Tapi setidaknya ia mengajak 'anak-anaknya' untuk ngobrol dengan aktif. Sekarang? Mungkin sudah 7 kali aku menguap.
"Kemudian di surat Al-Hujuraat ayat 6 sampai 10 menjelaskan tentang peraturan-peratuaran tentang pergaulan umat Islam. Mari teteh bacakan terjemahannya…" orang yang bernama Teh Fatmi itu bersuara lagi. Akhirnya kantukku tidak bisa tertahan lagi dan… blek!


"Risma…" panggilan itu terdengar samar-samar.
"Ris…" kedua kalinya aku dipanggil. Ingin menyahut tapi aku lelah.
"Ris!! Bangun donk!!!" Ketiga kalinya orang itu memanggil, akhirnya aku bisa membuka mataku dan menyahutnya.
"pa'an sih.. lagi pewe…" aku merajuk. Oh, Mei toh.
"Jangan tidur terlentang disini Ris! Ada ikhwan!"
"Lho? Mang napa sih? Bodo amet da ikhwan," Wong aku sering tidur-tiduran di depan cowok-cowok.
"Duh, Ris… ngga boleh gitu… kamu dah jadi akhwat kan?"
Aku marah.
"Emang apa sih bedanya cewek ama akhwat?! Sama-sama manusia juga!" Aku membetulkan jilbabku yang berantakan dan bangkit meninggalkan Mei. Terlihat Mei pasrah.
Idih! Ternyata masuk rohis beban juga! Ternyata kehebohan hanya terjadi sementara! Lagian Rohis ngga rame! Pengen balik ke Basket! Aku sewot sambil melangkah cepat ke arah toilet. Toilet terlihat terkunci. Namun untung belum digembok. Toilet nampak sepi. Lebih tepat, tidak ada orang selain aku. Aku berkaca sebentar. Hmm.. pake jilbab ngga jelek ah! Aku tetep manis! Tapi aku teringat kembali ketika aku kepergok sama Teh Fitma. Kukira mau ngemarahin, nyatanya nyeramahin sambil menyinggung-nyinggung kalau tidur dalam pelajaran itu tidak baik! Aku kesal. Kemudian aku keluar ke teras masjid, kemudian melentangkan tubuhku dan tidur. Tahunya Mei, salah satu anah rohis malah negur juga! Aku tambah kesal. Mengingat itu, aku lepas jilbabku. Kemudian mengganti pakaianku dengan pakaian yang biasa aku pakai untuk basket. Mungkin masih latihan, aku berpikir. Rambutku yang terikat ga jelas bekas dimasukin ke ciput, aku urai dan disisir kemudian diikat lagi lebih rapi. Setelah rapi, aku semprotkan shower to shower-ku ke tubuhku secukupnya. Setelah merasa ok, aku membereskan bajuku. Sesaat mau pergi, aku berkaca lagi. Setelah puas, aku membuka pintu toilet itu, dan,
"Aaaa…!!!" Aku tiba-tiba menghentikan langkahku. Tekejut. Wajah berparas pucat itu memandangku sedih. Aku merinding, dan lari. Lari secepat-cepatnya menuju lapangan. Entah kenapa aku menjadi takut bila bertemu dengan dia. Ngga peduli dia mau ngejar atau ngga. Aku hanya ingin tidak bertemu saja!


Lapangan sepi. Hanya ada cowok-cowok kelas satu yang sedang main bola ngga jelas. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan anak-anak basket. Lho…? Pada kemana yah? Aku bingung sendiri. Aku cari ke teras lapangan. Tidak ada. Kemudian aku cari ke kantin tidak ada. Tidak ada. Terakhir aku cari ke sekretariat basket. Nihil. Ihhh… kok pada ilang semua…?
"Lho! Latihan Basket kan udah slese dari tadi!" Aku tersentak. Itu kan suara Nilda! Aku senang, dan berbalik ke arah mereka, hendak menyapa.
"Duh, kamu udah salat belum Nil?" Nesia tiba-tiba mengganti topik.
"Udah donk… Tadi kan kita berjamaah gitu sama anak-anak rohis!" Nilda menimpal balik.
"Tapi.. Kayaknya ada yang kurang deh! Ngga semuanya anak rohis salat lho!" Nesia membalas.
"Oh, ya?! Duh, aku baru tau! Aneh ngga sih?! Anak rohis kok belum salat?!" Deni lebih panas lagi.
Aku membatalkan untuk menyapa. Kalimat-kalimat teman-teman menyayati hatiku. Mereka berubah 180 derajat! Asalnya mereka mau-mau saja berteman denganku! Ada apa ini?? Apa karena aku tiba-tiba mngkhianati basket?
"Tau ngga sih? Kita ngga butuh sama anak yang sok masuk rohis!" Jleb! Serasa ada belati menusuk hatiku.
"Dari dulu emang ngga butuh kan? Lagian kita masih bisa sukses tanpa si Iddhara itu." Tanah yang aku pijak mulai basah. Aku terisak. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh salah satu dari mereka yang paling dingin yaitu Sinta, benar-benar menyakiti hatiku. Nilda, Nesia, Deni, dan Sinta meninggalkanku yang terisak. Aku terjatuh duduk dipijakanku. Air mata mengalir semakin deras. Tas-ku basah olehnya…
Di angkot aku merenung terus. Tidak peduli ada penumpang yang berisik. Dibenakku penuh dengan peristiwa tadi siang. Dari mulai kulad sampai peristiwa menyedihkan dengan teman-teman basketku.. Tadi Ryan kebetulan bertemu denganku. Saat itu aku sedang menangis.. kata-katanya masih terngiang di telingaku…
"Ada apa Ris?"
"eh ngga kok!" aku berusaha menyeka air mataku.
"Kamu sakit?"
Aku marah.
"Sakit apa sih?? Aku baik-baik saja gini!!!"
"ngga.. banyak gossip kalau kau sedang sakit…"
"maksud kmu….?"
"Tidak. Aku nggg… sementara kita jangan menjalin hubungan dulu yah… dah."
"Apaan sih??? Aku makin ngga ngerti!!! Jalin hubungan apaan coba?!"
"Dagh Risma! Hati-hati ya! Seka air matamu!" Ryan meninggalkanku.
Mataku perih. Dari tadi angin mengenai mataku yang sembab ini. Aku kucek-kucek mataku. Tiba-tiba angkot terhenti ketika ada seseorang yang bilang "kiri". Satu orang penumpang masuk dari luar. Aku mengenal orang itu. Kini aku tidak kabur. Aku menyapanya ingin mencari teman untuk sharing.
"Seli!!!!" Aku memanggil sosok itu yang berada di depanku. Ia tidak menyahut. Masa salah orang sih…?
"Gradiana Seli!!" Aku memanggil lagi. Hasilnya sama saja. Jelas-jelas penampilan menunjukkan bahwa itu Seli. Apa dia marah ya? Dari kemaren aku kabur terus? Tapi kesal juga. Akhirnya pake cara kasar aja. Aku menepuk bahunya dari depan. Dan.. Plash! Tanganku tidak sanggup menyentuhnya! Mataku terbelakak.
"Aaaaaaa!!!!" aku berteriak. Nafasku terengah-engah. Aku memutarkan seluruh pandanganku. Sudut-sudut ini adalah kamarku. Aku memegang dahiku. Panas. Hmm.. demam. Akhir-akhir ini aku suka mimpi aneh. Kurebahkan lagi tubuhku. Mataku menerawang jauh. Apa Seli marah ya..? Jaket pink yang ia berikan telah kulupakan begitu saja. Tadi aku sempet takut.. Pandangannya serem sih.. Tapi… mimpi tadi terlalu aneh.. Ah, sudahlah.. Pintu kamarku terbuka. Sosok ibu masuk ke kamarku. Kupeluk ibuku setelah mendekat ke kasurku.
"Ada apa Ris?"
"Risma takut bu…"
"Takut kenapa?"
"takut kehilangan teman…"
Ibuku menghela nafas.
"Tidak. Kau adalah anak ibu sekaligus teman ibu yang paling berharga bagiku."
"Terimakasih bu…" aku tersenyum.
"Ris.. jangan suka tidur di angkot yah?"
"Hah?? Mang Risma tadi tidur di angkot ya??"
"Iya.. untung Mang Toni masuk ke angkot itu. Mang Toni minta suruh becak buat anterin kamu sama mang Toni ke rumah."
"Alahamdulillah… untung saja.." eh? yTadi aku ngomong apa? Alhamdulillah? Sesuatu yang jarang kulakukan. Ibuku tersenyum. Kemudian Ibuku memberi bungkusan.
"ini apa bu?"
"bukalah." Aku membukanya. Penasaran.
"Kumpulan Cerita Pendek – Hari-hari Cinta Tiara karya Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia."
"ya, bacalah. Ibu yakin ini membuatmu terhibur."
"Makasih bu…"
"Iya.. sama-sama sayang… Ibu ke dapur dulu yah. Mau nyiapin bubur buat kamu. Kamu demam."
"Ok." Ibuku melangkahkan kakinya keluar.
Sesaat aku lupa dengan masalahku. Aku terlarut oleh buku yang diberikan oleh ibuku…

4 Comments:

At 10:18 AM, Blogger BieLa said...

rameee!!!
ditunggu bagian 6-nya y :D

 
At 1:28 PM, Blogger Gichie said...

bravo...

ditunggu juga bagian 6nya!

 
At 10:50 AM, Blogger BieLa said...

bagian 6-nya mana?? :(

 
At 12:11 AM, Anonymous Anônimo said...

Looking for information and found it at this great site... film editing schools

 

Postar um comentário

<< Home